Abstract

Penelitian filsafat ini mengkaji dinamika pemikiran Immanuel Kant sewaktu menghadapkan rasionalitas kritis pada fenomena abstraksi modernitas. Bagaimana sains modern memengaruhi restrukturisasi batas pengetahuan manusia sewaktu metafisika dogmatis mengalami krisis kepercayaan? Perkembangan filosofis Kant menawarkan pergeseran paradigma epistemologis lewat pendasaran kesadaran transendental tempat subjek bertindak sebagai penentu struktur pengalaman. Pembacaan kritis atas rasionalisme dan empirisme berhasil mendudukkan kembali batas kapasitas akal murni tanpa mereduksi kompleksitas realitas (Rockmore, 2006).

Gempuran mekanisasi zaman berpotensi mengikis martabat individu menjadi sekadar instrumen teknis pendukung sistem. Mengapa imperatif kategoris tetap relevan sebagai benteng etik dalam menjaga otonomi moral individu di tengah keterasingan masyarakat modern? Sintesis etika transendental menegaskan bahwa setiap manusia memegang posisi absolut sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Hasil kajian memperlihatkan keberhasilan filsafat kritis Kantian merangkai keselarasan antara ilmu pengetahuan dan kebebasan eksistensial manusia (Korsgaard, 1996).

 

Keywords

References

  1. Adorno, T. W. (1973). Negative Dialectics. New York: Continuum Publishing.
  2. ​Allison, H. E. (2004). Kant's Transcendental Idealism. New Haven: Yale University Press.
  3. ​Cassirer, E. (1981). Kant's Life and Thought. New Haven: Yale University Press.
  4. ​Guyer, P. (2000). Kant on Freedom, Law, and Happiness. Cambridge: Cambridge University Press.
  5. ​Habermas, J. (1987). The Philosophical Discourse of Modernity. Cambridge: MIT Press.
  6. ​Korsgaard, C. M. (1996). Creating the Kingdom of Ends. Cambridge: Cambridge University Press.
  7. ​Wood, A. W. (2005). Kantian Ethics. Cambridge: Cambridge University Press.